KOLOM KALEM | NUGres – Alhamdulillah, kita telah memasuki hari keempat Ramadan dalam keadaan sehat dan afiat. Ini adalah anugerah besar, sebuah modal berharga untuk terus istikamah dalam ibadah hingga akhir bulan penuh berkah ini.
Setiap Ramadan tiba, suasana berubah. Udara pagi terasa lebih segar, masjid-masjid lebih hidup, dan kebersamaan dalam beribadah semakin kuat. Ada sesuatu yang istimewa ketika kita berpuasa bersama-sama. Saat melihat orang-orang di sekitar juga menahan lapar dan dahaga, puasa terasa lebih ringan. Seakan kita semua berada dalam satu perjalanan spiritual yang sama, saling mendukung tanpa perlu banyak kata.
Pernahkah kita membandingkan puasa Ramadan dengan puasa sunnah? Mengapa puasa sunnah sering terasa lebih berat? Jawabannya sederhana: karena kita menjalaninya sendirian. Ketika berpuasa Senin-Kamis, misalnya, kita tetap melihat orang lain makan dan minum seperti biasa. Tidak ada atmosfer yang mendukung seperti saat Ramadan.
Namun, di bulan suci ini, semuanya berubah. Di pasar, para pedagang berpuasa. Di rumah, seluruh keluarga ikut menjalankan ibadah ini. Di sekolah dan tempat kerja, teman-teman kita juga sedang berpuasa. Kebersamaan ini menciptakan energi positif yang membuat ibadah terasa lebih mudah dan menyenangkan.
Sebaliknya, mereka yang berada di negara dengan mayoritas non-Muslim mungkin merasakan tantangan yang berbeda. Bayangkan harus berpuasa sementara orang-orang di sekitar tetap makan dan minum seperti biasa. Godaannya lebih besar, dan semangat pun bisa terasa lebih goyah. Inilah bukti bahwa kebersamaan memiliki kekuatan luar biasa.
Lebih jauh, Ramadan bukan sekadar soal menahan lapar dan dahaga. Ia membawa pengaruh besar dalam kehidupan sosial. Bahkan di masyarakat yang mungkin jauh dari nilai-nilai Islam, suasana Ramadan tetap terasa. Orang-orang yang biasanya lalai dalam ibadah mulai mendekatkan diri pada Allah. Mereka yang sering berbuat maksiat pun, setidaknya, berusaha mengurangi kebiasaan buruknya.
Namun, di tengah usaha memperbaiki diri, ada tantangan lain yang harus dihadapi. Musuh-musuh Islam selalu berupaya merusak masyarakat Muslim, salah satunya melalui media. Nilai-nilai Islam perlahan dikikis, membuat akidah, akhlak, dan tradisi umat mulai luntur. Jika tidak berhati-hati, kita bisa kehilangan esensi Ramadan dan hanya menjalankan puasa sebagai rutinitas tanpa makna.
Karena itulah, Islam selalu menekankan pentingnya pembinaan masyarakat. Kita tidak dapat menghapus semua keburukan, tetapi kita bisa mencegah agar keburukan tidak menjadi hal yang lumrah. Dalam sejarah, bahkan di zaman sahabat Nabi sekalipun, ada yang terjerumus dalam dosa seperti mencuri atau minum khamr. Namun, yang tidak bisa dibenarkan adalah ketika kemaksiatan dibiarkan begitu saja hingga menjadi bagian dari budaya masyarakat.
Di sinilah Ramadan memainkan perannya. Ia menjadi momen untuk membangun kembali nilai-nilai kebaikan. Tidak hanya dalam ibadah pribadi, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Kita melihat anak-anak kecil mulai belajar berpuasa, remaja aktif dalam kegiatan keagamaan, dan masyarakat semakin erat dalam silaturahmi. Majelis taklim, masjid, serta berbagai lembaga pendidikan menjadi pusat kegiatan yang memperkuat keseimbangan antara hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia).
Akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar. Ia adalah pendidikan spiritual yang membentuk karakter kita. Semoga di Ramadan 1446 H ini, kita semua dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, menjadikannya sarana pembelajaran, dan terus menginspirasi masyarakat luas. Aamiin.
*Syafik Hoo, Redaktur NUGres