Menengok Tradisi ‘Kupatan’ di Mengare

0
664

BUNGAH | NUGres – Suasana kegembiraan Idul Fitri masih dirasakan masyarakat pulau Mengare, Bungah, Gresik. Tujuh hari setelah idul fitri, ada momentum yang oleh masyarakat di Indonesia terutama jawa menyebutnya dengan istilah Rioyo Kupat atau Lebaran Ketupat.

Selain filosofi ketupat yang sudah banyak diketahui masyarakat yaitu ngaku lepat (menegakui kesalahan) juga sebagai bentuk rasa syukur karena sudah melakukan puasa syawal selama enam (6) hari.

Daerah Mengare disebut sebagai kawasan khusus yang masuk wilayah administrasi Kecamatan Bungah, Gresik. Ada tiga desa di wilayah yang secara geografi menjorok ke tepi laut, yakni Desa Tajungwidoro, Kramat dan Watu Agung.

Masyarakat di wilayah Mengare saat lebaran ketupat memiliki tradisi yang beragam, selain biasanya membuat kupat, lepet, dan dengkulan lalu membawanya ke Mushollah atau Masjid untuk dibacakan tahlil dan istighosah pagi hari sekitar pukul 05.30 WIB, mereka juga punya kebiasaan melakukan perjalanan laut ke Madura.

Menurut Marzuqi selaku tokoh masyarakat Desa Watuagung Mengare, Jumat (29/5), biasanya ada tradisi unik yang dilakukan masyarakat Mengare di hari raya ketupat. Ada yang sebagian berwisata ke Pantai Benteng (Exotic Mengare) dan sebagian ke Lampu (mercusuar) di Bangkalan, Madura.

“Jarak Madura dan Mengare memang terlihat begitu dekat jika dilihat dari pesisir pantai Mengare. Cukup dengan 20 menit untuk bisa sampai ke Madura. Biasanya warga Mengare menggunakan perahu sampan (perahu nelayan ukuran kecil) sebagai sarana transportasi ke Madura,” tutur Marzuki.

Tradisi ini sudah ada sejak dulu. Sulitnya transportasi membuat masyarakat mengare memilih berwisata ke pulau terdekat, Madura. Selain berwisata ada juga sebagian masyarakat yang bersilaturrahim ke sanak saudaranya di Madura.

“Meskipun saat ini banyak yang memilih berwisata keluar Mengare namun tidak jarang masih ada yang memilih ke Lampu (mercusuar) di Madura. Secara turun temurun, memang dulunya orang-orang yang tinggal disini banyak dari keturunan Madura,” sambung Marzuki.

Meski telah ada sejak lama, tradisi itu nyatanya tetap ada dan dilestarikan oleh sebagian warga Mengare.

Kontributor : Nizam

Leave a reply