Kisah Aktivis Muslimat Gresik Jadi Relawan Pemulasaran Jenazah Covid-19, Rela Puasa Tak Gendong Cucu

0
608

Menjadi relawan pemulasaran jenazah tidak mudah dibayangkan. Selain punya keberanian, juga harus keikhlasan. Ditambah, jenazah yang dirawat merupakan pasien Covid-19. Mereka rawan tertular. Karena itu, para relawan ini tidak sembarangan orang.

Salah satu relawan tangguh itu adalah Juliati. Perempuan yang juga aktivis Muslimat NU Gresik itu menyerahkan dirinya untuk membantu rumah sakit dalam pemulasaran jenazah. Tingginya kematian Covid-19 membuat tenaga mereka sangat dibutuhkan. Setiap hari ia bekerja tanpa lelah, dari memandikan, mengkafani dan memasukan jenazah ke peti.

Penulis : Aam Alamsyah

___________________________

NUGres – Jum’at (23/7/2021) pagi ini ia mendapati shif pertama. Pagi-pagi sekali perempuan berusia 49 tahun itu sudah rapi dengan baju hazamatnya. Bagi Juliati yang tidak berprofesi menjadi tenaga medis, baju itu menyiksaknya. Tapi tak ada pilihan lain, karena baju itu yang melindunginya selama merawat jenazah.

“Karena jadi rewalan saya sekarang puasa gak boleh gendong atau dekat cucuku. Ini berat sebenarnya, tapi mau bagiamana,” katanya.

Hari pertama menjadi relawan, Juliati sempat dibuat takjub dengan banyaknya jenazah. Mereka berjejer seperti mengantre untuk mendapat giliran disentuh petugas. Jumlah jenazah itu tak sebanding dengan petugas di sana. Karena itu dia akhirnya yakin, bahwa tenaganya sangat dibutuhkan.

“Barisan jenazah yang butuh perawatan memantapkan kami para relawan, bahwa kami berada di tempat yang tepat. Tempat yang memang membutuhkan bantuan,” jelas warga perumahan Pondok Permata Suci (PPS).

Sebagai relawan pemulasaran yang direkrut Pemkab Gresik, Juliati punya beberapa tugas. Antara lain, mengambil jenazah dari ruangan, membersihkan najis-najis yang dikeluarkan jenazah, dari semua lubang tubuh. Kemudian memandikan jenazah, mendisinfektan, mengkafani hingga memasukkan ke dalam peti.

Tentu ibu tiga anak itu sangatlah mahir dalam melakukannya. Sebab sebelumnya, Juliati memang sudah terbiasa merawat jenazah di kampungnya. Bahkan dengan alat pelindung diri (APD) seadanya. Hal itu tak membuat dirinya takut, sebab menurutnya merawat jenazah diyakini menambah amalan ibadah.

“Di awal pandemi saya juga sering merawat jenazah di kampung dengan APD seadanya karena kondisinya masih belum seperti ini. Tapi gelombang kedua ini, saya mulai khawatir, karena saat itu saya merawat jenazah pasien Covid-19. Teman saya yang belum vaksin jelang tiga hari kemudian sakit dan positif. Saya alhamdulillah negatif,” kenanganya.

Karena kejadian itu, suami dan anak-anaknya sempat khawatir. Mereka melarang Juliati beraktivitas merawat jenazah lagi. Keluarga tidak ingin, Juliati terkena imbas dari penyakit menular itu. Mendapati larangan itu dalam dirinya bergejolak, karena ia merasa ada yang membutuhkan pertolongannya namun dirinya tidak bisa.

“Saya punya ilmu tapi saya tidak bermanfaat itu sangat menyiksa. Akhirnya sampai ada informasi dari group Muslimat bahwa Pak Bupati merekrut relawan pemulasaran jenazah,” tandasnya.

Ia akhirnya meminta izin ke suaminya supaya diperbolehkan. Namun ternyata yang paling ngotot agar dirinya tak mendaftar adalah anak sulungnya. Alasannya, usia Juliati yang sudah tak mudah lagi sangat rawan terkena penyakit. Selain itu, di rumah juga ada cucunya yang masih berusia balita.

Setelah melewati perdebatan panjang, ia akhirnya diizinkan. Sebagai konsekuensinya dirinya tak boleh menggendong maupun dekat dengan sang cucu. Hal itu tentu membuatnya berat. Tapi bagaimanapun itu keputusan yang tepat.

“Saya tegaskan, ini hidup ibuk, mumpung masih sehat ibuk mau menambah amalan buat teman di alam kubur. Kamu tidak boleh melarang ibuk dengan alasan sayang,” tandasnya.

“Akhirnya dengan (mengucap) bismillah. Saya berangkat berangkat jadi relawan pemulasaran jenazah di rumah sakit pasien Covid-19,” tambahnya.

Sebelumnya, Bupati Gresik mengkukuhkan sebanyak 61 orang menjadi relawan tangguh Pemulasaran Jenasah covid-19 Gresik. Mereka ini, termasuk Juliati ditempatkan di seluruh RS rujukan Covid-19 yang ada di Gresik.

Ada 6 rumah sakit yang telah ditetapkan oleh Pemkab Gresik untuk penugasan relawan tersebut. Yaitu RS Ibnu Sina, Rumah Sakit Semen Gresik, RS Petrokimia Gresik, PKU Ujungpangkah, RS Watestanjung Balongpanggang, dan RS Randegansari Driyorejo.

Leave a reply